Home Properti Beberapa Masalah yang Diterima Dari Oper Kredit KPR

Beberapa Masalah yang Diterima Dari Oper Kredit KPR

by admin

Biasanya warga lebih condong cari property telah dengan status Sertifikat Hak Milik (SHM) atau Sertifikat Hak Buat Bangunan (SHGB). Karena, keduanya punya keuntungan yaitu memiliki kekuatan hukum lebih baik.

Ada pula persoalan otoritas walau tanah/bangunan telah dengan status sertifikat (SHM/SHGB), yakni praktik di lapangan yang lebih diketahui dengan arti ‘alih debitur’ atau ‘oper kredit’ memakai kesepakatan dibawah tangan, dimana konsumen menyerahkan beberapa uang sesuai dengan persetujuan pada penjual yang tidak lain ialah nasabah KPR selanjutnya merencanakan mencicil sampai lunas tapi tanpa ada sepengetahuan bank.

Praktik itu keliatannya simpel tetapi baik penjual (nasabah KPR) atau konsumen dapat dirugikan sebab, diantaranya:

1. Penjual

Kemungkinan telah merasakan semua beres, yakni telah terima uang serta tidak ada masalah dengan faksi bank ditambah lagi cicilannya dilanjutkan oleh konsumen. Namun bila pembelinya tidak teratur bayar kewajibannya jadi nama kita jadi buruk di BI Checking serta tidak dapat pinjam di bank mana saja sebab KPR masih atas nama penjual.

2. Konsumen

Mengenai kekuatan kerugian faksi konsumen ialah:

  • Peralihan hak atas object jaminan statusnya dilarang tanpa ada sepengetahuan faksi bank hingga transaksi jual beli itu tidak disadari oleh faksi bank. Mengenai siapa yang mencicil buat bank tidak penting, sebab yang penting ialah cicilannya lancar.
  • Walau tiap bulannya melanjutkan cicilan, tetapi jika telah lunas cicilannya, sertifikat (jaminan) akan diberikan pada debitur sebab masih atas namanya/penjual dibawah tangan.
  • Bila debitur/penjual dibawah tangan itu beritikad jelek, mendekati pelunasan dapat hadir ke bank lalu melunasi credit serta ambil sertifikatnya. Tidak ada fakta bank untuk menolaknya.
  • Ribet bila debitur yang tempat tinggalnya dibeli itu wafat, jadi bisa saja pakar warisnya akan tuntut tanah/rumah jadi hak mereka sebab masih atas nama orang tuanya, walau faksi konsumen tunjukkan bukti kwitansi pembayaran. Bila berlangsung tuntutan; peluang konsumen akan kalah sebab faksi pakar waris lebih kuat tempatnya. Menunjuk pengacara juga sia-sia, serta akan banyak keluar ongkos, waktu, tenaga, serta pemikiran kita yang terkuras.
  • Oleh karenanya, bila ingin punya KPR dengan pindah debitur atau diketahui ‘oper kredit’ lebih baik bersama dengan penjual mengontak bank pemberi KPR serta dikerjakan akta jual beli dengan faksi penjual lalu dibalik nama dengan notaris sepengetahuan bank. Lebih sedikit ongkos tapi aman. Kelak juga pasti akan keliar ongkos balik nama kebutuhan otoritas. Tetapi semenjak awal dapat pulas tidur.

Leave a Comment